Category Archives: Renungan

Renungan Harian Sabtu, 06 September 2014

Mengabdi Manusia

Pekan Biasa XXII: 1Kor. 4:6b-15; Mzm 145; Luk. 6:1-5
Halaman pertama Kitab Suci (Kej. 1:1-2:3) bercerita tentang penciptaan alam semesta. Allah menyelesaikan ciptaan-Nya selama enam hari dan beristirahat pada hari ketujuh, maka hari itu dikuduskan untuk Allah. Kitab Ulangan (5:12- 15) memberi alasan lain hari Sabbat merupakan kesempatan istirahat bagi umat Israel. Hari itu mengingatkan Israel akan perbudakan di Mesir dan pembebasan oleh Allah. Maka, Sabbat mesti dinikmati dengan rasa syukur kepada Tuhan dan diisi dengan istirahat untuk memulihkan tenaga dari kelelahan selama enam hari bekerja keras, terutama bagi kaum buruh yang miskin. Jadi, hukum hari Sabbat menjamin kehidupan yang sejahtera bagi rakyat.
Pada masa Yesus, makna hari Sabbat disalahtafsirkan menjadi hari yang sulit, penuh aturan dan larangan, sehingga tak dapat dirayakan dengan sukacita. Ada sejumlah aturan dan larangan yang didaftarkan ahli-ahli Taurat berkaitan dengan “bekerja”, seperti menumbuk, menampi, mengirik, dan yang lain. Murid-murid Yesus melanggar kekudusan hari Sabbat, karena mereka memetik bulir-bulir gandum, mengirik dengan tangan, lalu menampi. Aturan Sabbat yang kaku ini masuk dalam kelompok “yang lama”, yang seharusnya sudah berakhir dengan kehadiran “yang baru” yaitu Mesias. Hukum apapun harus mengabdi kepada kepentingan manusia, bukan sebaliknya. Bagaimana sikap kita?
Sr Grasiana PRR
sumber : hidupkatolik.com

Renungan Harian Kamis, 4 September 2014

Misi Baru

Pekan Biasa XXII; 1Kor 3:18-23; Mzm 24; Luk. 5:1-11
Hari ini penginjil Lukas kembali menampilkan Yesus di tepi danau Genesaret. Mungkin saja orang banyak berdesakkan di sekitar Yesus karena ingin mendengarkan-Nya. Ia lalu berpindah keperahu Petrus dan mengajar. Orang banyak itu terkesan terhadap pribadi dan pengajaran Yesus. Tapi, tidak dikatakan secara jelas tanggapan mereka terhadap-Nya.
Kisah lalu berfokus kepada tokoh nelayan yang bernama Simon. Kesannya begitu dalam terhadap pribadi Yesus, sehingga ia membiarkan dirinya dicobai oleh-Nya, “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah…!” (Luk 5:4). Bagi Simon, hal ini tidak masuk akal, waktu dan strateginya tidak tepat. Jawab Simon, “Karena Engkau yang menyuruhnya, aku akan…. Inilah pengakuan iman Simon. Ternyata jala itu penuh ikan. Mereka heran dan bingung tentang pribadi Yesus. Ternyata, Dia memiliki “kuasa ajaib”.
Kata-kata Yesus telah mengubah pandangan hidup mereka. Daya tarik Yesus membuat mereka melepaskan keluarga, pekerjaan, dan mengikuti Dia. Petrus telah siap meninggalkan hidupnya sebagai nelayan dan menjadi murid Yesus. Ia telah menjadi manusia baru dengan nama baru dan misi baru. Setiap langkah perubahan itu tidak mudah. Namun, sabda Yesus menjadi jaminan. “Jangan takut…!” Bagaimana sikap kita?
Sr Grasiana PRR
sumber :hidupkatolik.com

Renungan Harian Sabtu, 23 Agustus 2014

Sandiwara

Pekan Biasa XX; Yeh 43:1-7a; Mzm 85; Mat 23:1-12
Dalam sandiwara, seorang aktor bisa memainkan peran yang sama sekali berbeda dengan watak asli. Injil hari ini menampilkan Yesus yang menasihati orang dan murid-murid untuk mendengarkan dan melakukan segala yang diajarkan para pemimpin agama, namun tak boleh meniru perbuatan mereka. Mengapa? Karena ajaran dan perilaku para pemimpin itu tidak padu alias tidak serasi.
Mereka bukan pemimpin otentik tapi orang-orang yang pandai bersandiwara. Mereka melakukan kebaikan hanya demi dilihat orang, namun sikap asli mereka sehari-hari sangat buruk. Mereka menindas orang dengan ajaran yang mengatasnamakan agama, tapi mereka sama sekali tidak melaksanakan ajaran itu. Itulah musuh Kerajaan Allah.
Yehezkiel membawa kisah happy ending dalam penglihatan Allah yang kembali ke Bait Suci sebagai pemulihan terhadap kisah Allah yang meninggalkan Bait Suci karena dinajiskan oleh tingkah laku para pemimpin yang tak berkenan kepada-Nya. Marilah memupuk pengharapan dan cinta kasih agar Allah berkenan melindungi kita semua dari jerat sandiwara, baik yang dimainkan kita maupun oleh orang-orang yang kita hormati sebagai
pemimpin.
Monica Maria Meifung
sumber : hidupkatolik.com

Renungan Harian Senin, 18 Agustus 2014

Pesona Semu

Pekan Biasa XX; Yeh 24:15-24; Ul 32; Mat19:16-22

Pendosa yang buruk melulu mencatat kejahatan-kejahatan yang dilakukannya. Pendosa yang baik mencatat keutamaan-keutamaan yang tidak dilakukannya.”
Ada seorang pemuda yang kaya dan telah menuruti perintah Allah sejak masa kecil. Jika ia berada di tengah para perempuan lajang yang mencari jodoh atau di antara orangtua yang sedang mencari menantu, pasti akan menjadi rebutan. Si pemuda rupanya sedang galau. Ia berkonsultasi kepada Yesus mengenai cara memperoleh hidup kekal. Sepintas orang pasti terpesona, karena kaya dan taat pada perintah Allah, serta terus mencari hal-hal baik untuk masuk Surga. Tunggu dulu! Persis di situlah kekeliruan itu.
Si pemuda kaya itu bertanya, “Apa yang harus kuperbuat untuk…?” Dia menyangka hidup kekal dapat ditukar dengan per buatan baik. Kesempurnaan praktik agama Yahudi berbeda dengan kesempurnaan yang ditawarkan Yesus. Jalan menuju kesempurnaan hidup kekal bukan peraturan-peraturan hukum atau perbuatan baik, melainkan jalan tata penyelamatan baru, yakni Yesus sendiri. Dialah Jalan, Kebenaran dan Hidup yang mengosongkan diri-Nya dan menjadi sama dengan manusia.
Itulah yang diminta Yesus dari si pemuda kaya, yakni mengidentifikasi diri dengan orang miskin melalui pengosongan dan pembersihan diri dari kelekatan harta dunia. Kerajaan Allah tak diraih karena prestasi manusia, tetapi rahmat yang dicurahkan dalam hati yang lepas bebas. Bagaimana saya?
Monica Maria Meifung
sumber : hidupkatolik.com

Renungan Harian Minggu, 17 Agustus 2014

Kekuasaan dalam Cahaya Iman

Hari Raya Kemerdekaan RI: Sir 10:1-8; Mzm 101; 1Ptr 2:13-17; Ma t 22:15-21
Iman Kristiani menandaskan bahwa kekuasaan politis itu bukanlah segala-galanya, tetapi ditempatkan di bawah kuasa yang lebih tinggi yaitu kuasa ilahi.
Kekuasaan itu mempesona. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan kalau orang berlomba- lomba untuk merebutnya. Bahkan orang tak segan dan tak tahu malu menggunakan segala macam cara untuk berkuasa. Kampanye hitam dalam Pilpres yang baru lewat adalah bukti yang paling jelas dari hal ini. Kekuasaan itu juga membius. Tak mengherankan kalau orang yang berkuasa berupaya dengan pelbagai cara tetap bercokol di tahta kekuasaan.
Justru karena kekuasaan itu cenderung ‘korupt’ (the power tends to corrupt), iman Kristiani menandaskan bahwa kekuasaan politis itu bukanlah segala-galanya, tetapi ditempatkan di bawah kuasa yang lebih tinggi yaitu kuasa ilahi. Kisah Injil hari ini, tentang “Membayar pajak kepada Kaisar” (Mat 22:15-22), mewartakan dengan tegas tentang hal tersebut. Memang teks ini seringkali ditafsir oleh banyak pihak sebagai ajaran Yesus tentang keterpisahan dunia politik dari ranah iman atau tentang otonomi negara dari agama.
Negara dan agama memiliki prinsip dan mekanisme masing-masing yang tidak boleh dicampur-adukkan satu sama lain. Bila negara mengurusi hal-hal politis jasmani warga negara, maka agama menangani urusan etis- rohani umat. Namun, tak jarang pandangan demikian bermuara pada kekeliruan yang fatal ketika fungsi kritis profetis iman terhadap kekuasaan politik dibungkam dan agama dibatasi dalam urusan ritual
belaka.
Dalam kisah Injil hari ini, Yesus sebetulnya berbicara tentang hal lain yaitu tentang kekuasaan sipil yang mesti dijalankan sesuai dengan kehendak ilahi. Seorang warga yang baik tentu wajib taat kepada Kaisar. Tetapi ketaatan itu bukanlah ketaatan buta. Yesus sekaligus mengingatkan bahwa ketaatan demikian mesti diselaraskan dengan ketakwaan kepada Allah. Itu berarti orang tunduk kepada Kaisar sejauh ia menjalankan kekuasaannya sesuai dengan kehendak Allah. Orang mesti “memberikan kepada Allah apa yang menjadi milik Allah”. Yang menjadi milik Allah adalah segala sesuatu yang diciptakan- Nya, termasuk kekuasaan politis yang dimiliki sang Kaisar.
Dalam perspektif iman Israel, kekuasaan politik tidak dipisahkan dari otoritas religius. Seorang raja adalah representasi Allah. Artinya, ia menjalankan kuasa yang diberikan oleh Allah dan sekaligus harus bertindak sesuai dengan kehendak Dia yang Kekuasaan berikan otoritas tersebut. Karena itu seorang
pemimpin politik selalu dinilai oleh prinsip- prinsip moral yang mengalir dari keyakinan iman akan Allah seperti kejujuran, kebenaran, keadilan, kesejahteraan umum dan kemanusiaan.
Hal yang sama ditegaskan oleh Kitab Sirakh dalam nasihat-nasihat untuk para penguasa (Sir 10:1-10). Kuasa politik tunduk di bawah kuasa ilahi, karena “di dalam tangan Tuhan terletak kuasa atas bumi” (Sir 10:4). Martabat seorang pejabat “dikaruniakan oleh-Nya” (Sir 10:5). Karena itu penguasa mesti mengusahakan ketertiban dan kesejahteraan bagi rakyatnya sesuai dengan kehendak Allah. Sebaliknya, ada tiga bahaya besar yang harus dihindari oleh para penguasa yakni kelaliman, kekerasan dan uang (Sir 10:8). Sirakh memperingatkan dimensi temporer penguasa yang mengabsolutkan kekuasaanya: “hari ini masih raja dan besok sudah mati!” (Sir 10:10).
Hal serupa ditegaskan oleh Santo Petrus dalam surat pertamanya (1 Ptr 2:13-17). Ia mengajak umat Kristiani untuk tunduk kepada pemegang kekuasaan “karena Allah”. Orang perlu taat kepada penguasa yang takwa kepada Allah bukan kepada penguasa lalim. Ketakwaan kepada Allah ini tampak ketika seorang penguasa memperjuangkan kebaikan dan memberantas kejahatan. Dalam konteks memperjuangkan kebaikan bersama atau kesejahteraan umum inilah seorang penguasa dinilai.
Perayaan kemerdekaan bangsa Indonesia tahun ini sangatlah bermakna karena bertepatan dengan transisi kekuasaan kepada pemimpin yang baru. Bacaan-bacaan hari Minggu ini menginspirasi prinsip-prinsip kekuasaan yang tepat. Marilah kita berdoa dan turut berjuang agar pemimpin baru Indonesia sungguh-sungguh dapat menjadi pelayan rakyat. Yaitu pemimpin yang bukan membatasi atau mengkebiri kebebasan warga, tetapi yang mengkondisikan agar anak-anak bangsa merasa dan hidup sebagai orang-orang yang merdeka dan sejahtera. Selamat merayakan 17 Agustus 2014.
Mgr Hubertus Leteng
Uskup Ruteng

sumber : hidupkatolik.com

Renungan Harian Selasa, 29 Juli 2014

Sola Fides?

PW St. Marta; Yer. 14:17-22;¬Mzm. 79;¬Yoh. 11:19-27

Marta adalah orang yang senang bekerja sendirian. Namun, seperti kebanyakan orang Yahudi, ia juga memiliki iman pada “kebangkitan pada akhir zaman”. Marta juga percaya kepada ‘kekuatan’ Yesus. Namun, ketika Lazarus, satu-satunya saudara laki-lakinya, meninggal dunia tanpa kehadiran Yesus, Marta meragukan imannya. “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati“ (Yoh.11:21). Terhadap situasi semacam ini, Yesus memberi solusi to the point: “Saudaramu akan bangkit!” (ay. 23).
Kisah Marta memberi teladan mengenai proses pertumbuhan iman, yang tidak bisa dihidupi sendirian. Ia harus di olah bersama dan selalu dikaitkan dengan lingkungan sekitar. Bukan hanya dalam ranah sikap iman orang lain, tetapi juga dalam ranah isi iman. Karena itulah, dalam Gereja Katolik, tidak dikenal prinsip sola fides (hanya melalui iman saja, orang bisa memperoleh keselamatan, yang lain tidak perlu).
Iman Katolik harus selalu ditempatkan dalam kesatuan dengan iman seluruh umat Allah, dengan segala tradisi, Kitab Suci, dan ajarannya. Maka, komunikasi iman, mulai dari mendengar, menyimak, memahami, dan mewujudkannya secara sosial, menjadi paling utama. ‘Persekutuan orang kudus’ yang berpusat pada karya keselamatan Tritunggal Mahakudus, merupakan harta paling berharga dari Gereja.
Henricus Witdarmono
sumber : hidupkatolik.com

Renungan Harian Rabu, 23 Juli 2014

Benih itu Jatuh

Pekan Biasa XVI: Yer 1: 4 – 10; Mzm 71; Mat. 13:1-9
Yesus mewartakan Kerajaan Allah dengan perumpamaan. Ia menyampaikan perumpamaan tentang sang penabur yang keluar untuk menaburkan benih. Benih itu jatuh di atas berbagai jenis tanah; yang di pinggir jalan dimakan burung, yang jatuh di tanah bebatuan menjadi kering dan mati, yang jatuh di antara semak duri pun mati; namun ada yang jatuh di tanah baik dan menghasilkan panen berlimpah. Kondisi tanah yang menerima benih menentukan jumlah dan hasil panen yang akan diperoleh.
Jenis tanah yang sulit itu melukiskan berbagai bentuk penolakkan terhadap benih Kerajaan Allah yang diwartakan oleh para nabi maupun Yesus. Ajaran Yesus seolah jatuh ke telinga orang-orang tuli sehingga tak ada tanggapan. Kehadiran-Nya seolah tak berarti, lemah dan tak dikenal, namun ia bertumbuh, berakar dan meragi dalam dunia. Sering kita bertanya, untuk apa membuang waktu dan energi mewartakan Injil untuk mereka yang hanya sibuk mencari uang, yang hatinya ter tutup untuk mendengarkan ajakan Tuhan? Percayalah bahwa Sabda Tuhan sendiri memiliki kuasa untuk mengubah sesuatu.
Sr Grasiana PRR
sumber : hidupkatolik.com

Renungan Harian Rabu, 16 Juli 2014

Bagi Orang Kecil

Pekan Biasa XV; Yes 10:5-7.13-16; Mzm 94:5-10.14-16; Mat 11:25-27
Bangsa Asyur adalah bangsa yang di tunjuk Allah menjadi “tongkat” untuk menghukum Kerajaan Yehuda yang mulai tidak setia kepada Allah. Allah mencoba mendidik “anak yang dikasihi-Nya” ini dengan ancaman dari bangsa Asyur. Namun yang terjadi, Asyur justru menjadi som bong. Mereka bertindak lebih dari yang dikehendaki Allah. Kesombongan inilah yang membawa bangsa Asyur ke pada kehancuran.
Dalam mazmur tanggapan, kasih Allah sungguh terlihat dan terungkap jelas. Meski umat pilihan-Nya berpaling dari pada-Nya dan Allah bermaksud menghukum “anak yang dikasihi-Nya”, namun Allah tidak akan membuang umat-Nya. Allah menyayangi umat-Nya dengan kasih yang tulus. Allah mengharapkan umat-Nya juga mengasihi- Nya dengan ketulusan yang sama.
Ketulusan itu dapat kita pelajari dari hal-hal yang sederhana. Maka, dalam bacaan Injil Yesus mengatakan bahwa Allah menyatakan kehendak-Nya justru pada orang kecil. Di sini Matius memakai kata Yunani “nepiois” dari kata sifat nepios- yang berarti “seperti anak-anak”. Dalam Matius ditekankan bahwa murid-murid Yesus adalah anak-anak dari Allah di surga yang disapa sebagai Bapa oleh Yesus. Artinya, rahasia kehendak Allah juga diungkapkan kepada kita murid-murid Yesus.
RD Josep Susanto
Dosen Kitab Suci STF Driyarkara Jakarta

sumber : hidupkatolik.com

Renungan Harian Minggu, 29 Juni 2014

Pengalaman akan Allah

Semoga kita pun berkat teladan dan doa kedua Rasul Agung ini, berani menerima ketidakberdayaan kita dan berharap dapat semakin mengalami kehadiran serta kuasa Allah yang membarui kehidupan.
Hari Raya St Petrus dan St Paulus: Kis 12:1-11; Mzm 34; 2Tim 4:6-8,17-18; Mat 16:13-19
Santo Petrus dan Paulus, kendati tak hidup dalam masa yang sama dan punya peranan berbeda dalam sejarah Gereja, dirayakan secara bersama. Mengapa? Salah satu jawaban yang bisa diberikan ialah: mereka berdua merupakan tokoh utama dalam sejarah Gereja Awal.
Bacaan pertama hari ini diambil dari Kisah Para Rasul. Kalau kita baca dengan teliti, sebenarnya isi kitab ini bukan kisah para Rasul, tapi kisah Gereja Awal yang dalam perkembangannya dituntun Roh Kudus. Selain itu, hanya dua Rasul yang dikisahkan, yaitu Petrus dan Paulus. Petrus dikisahkan dalam bagian pertama hingga kisah mengenai pertemuan di Yerusalem. Sementara Paulus dikisahkan pada bagian kedua, mulai kisah pertobatan hingga menjadi tahanan rumah di Roma. Muncul pertanyaan, pengalaman-pengalaman seperti apakah yang telah membentuk pribadi kedua Rasul Agung ini? Jawabannya amat banyak. Kalau kita membaca kisah kedua Rasul itu, sekurang-kurangnya ada dua pengalaman yang menentukan hidup mereka.
Pertama, pengalaman ketidakberdayaan seperti kegagalan, ketidakmampuan mengatasi keadaan – termasuk keadaan diri sendiri. Dalam hidup Petrus, pengalaman ini tampak pada peristiwa penyangkalan yang ia lakukan menjelang akhir hidup Yesus (Luk 22:54-62). Ia tak mampu mengatasi keterbatasan kemampuannya untuk setia. Pada peristiwa penangkapan ikan yang ajaib, ia mengatakan, “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa” (Luk 5:5). Sebenarnya, kata-kata ini bukan pertama-tama berkaitan dengan menangkap ikan dalam arti harafiah, melainkan ungkapan kegagalan dalam karya kerasulan. Petrus juga berada dalam bahaya tenggelam ketika dalam hidupnya ia merasa takut, kurang percaya dan bimbang.
Hal serupa terjadi pada diri Paulus. Kepada jemaat di Galatia ia menulis, “Aku kuatir kalau-kalau susah payahku untuk kamu telah sia-sia” (Gal 4:11). Ketidakberdayaan ini amat jelas dalam surat kedua yang ia tulis pada jemaat di Korintus. Ia menyatakan, “Sebab kami mau saudara-saudara, supaya kamu tahu akan penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami” (2Kor 1:8). Ketidakberdayaan pribadi ia ungkapkan dalam suratnya pada jemaat di Roma, “Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat yang aku perbuat” (Rm 7:19).
Namun, ketidakberdayaan ini tak membuat kedua Rasul Agung itu habis atau hancur. Mengapa? Karena justru ketika mereka tidak berdaya, mereka mengalami rahmat Tuhan yang menyelamatkan. Inilah pengalaman dasar kedua yang paling menentukan hidup mereka.
Petrus mengalaminya ketika ia menyebut Yesus bukan sekadar sebagai Guru, tapi sebagai Tuhan. Pada waktu itu, sebutan dirinya bukan lagi sekadar Simon, melainkan Simon Petrus. Perubahan nama ini melambangkan perubahan serta pembaruan hidup dan sikap: semula ia percaya pada kekuatan sendiri, selanjutnya ia berkata, “karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga” (Luk 5:5). Rupanya pengalaman yang paling mengesankan bagi Petrus ialah ketika ia menyangkal Yesus (Luk 22:54-62). Pandangan Tuhan mengubah jalan hidupnya. Petrus yang hidupnya sudah diperbarui inilah yang bisa mengucapkan pengakuan: Yesus adalah Mesias dan Anak Allah yang hidup dan dijadikan batu karang bagi jemaat Tuhan (Mat 16:13-19).
Pengalaman Paulus akan Allah diungkapkan dalam bahasa yang samar-samar. “Sebab Allah yang telah berfirman: ’Dari dalam gelap akan terbit terang!’, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus” (2Kor 4:6). Berjumpa dengan Tuhan berarti mengalami penciptaan baru. Dan sebagai manusia baru, ia dapat berkata, “Sebab jika aku lemah, maka aku kuat” (2Kor 12:10). Sebagai manusia baru inilah ia dapat berkata, “… darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan…Aku telah mengakhiri pertandingan dengan baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman… Bagi-Nyalah kemuliaan selama-lamanya” (2Tim 8:6-7.18).
Semoga kitapun, berkat teladan dan doa kedua Rasul Agung ini, berani menerima ketidakberdayaan kita dan berharap dapat semakin mengalami kehadiran serta kuasa Allah yang membarui kehidupan. Akhirnya kita dapat mengucapkan: “Aku telah mengakhiri pertandingan dengan baik, telah mencapai garis akhir dan telah memelihara iman
Mgr Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo
Uskup Agung Jakarta
sumber : hidupkatolik.com

Renungan Harian Kamis, 19 Juni 2014

“Bapa Kami”

Pekan Biasa XI; Sir 48:1-14; Mzm 97; Mat 6:7-15
Doa Bapa Kami merupakan salah satu doa Kristen tertua. Dalam kitab Didache 8:2-3, yang diperuntukkan bagi pengajaran jemaat, ada dua perintah yang menyertai doa itu. Pertama, “janganlah berdoa seperti orang munafik” (Did. 8:2a), dan kedua, hendaknya “engkau mendaraskan doa itu tiga kali dalam se hari” (Did.8:3). Doa Bapa Kami memang memiliki konteks liturgi.
Isi doa Bapa Kami memang sangat padat. Salah satu yang paling menarik adalah ungkapan “berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” (Mat.6:11). Bila diterjemahkan menurut makna teks Yunani, ungkapan itu berbunyi, “berikanlah (Yun.dos) kepada kami hari ini semua kebutuhan untuk hidup (Yun.artos) sehari-hari, yang dampaknya berlangsung terus.” Pengertian ‘dampak’ itu muncul karena Mateus menggunakan kata dos, yang merupakan aorist tense dari kata kerja didómi (memberi). Dalam tata bahasa Yunani, aorist tense menyatakan ‘sebuah tindakan yang bersifat satu kali, tetapi memiliki dampak yang berkelanjutan’. Sedangkan arti artos tidak terbatas pada roti atau makanan, tapi juga ‘semua kebutuhan (yang penting) untuk hidup’.
Ringkasnya, dikaitkan dengan Ul.8:3, begitu kita berdoa memohon kepada Allah, saat itu juga Dia akan memberikan kepada kita segala kebutuhan hidup rohani dan jasmani, yang dampaknya berlangsung sepanjang hidup. Pemberian satu kali berdampak panjang ini, merupakan wujud dari “datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti disorga” (Mat.6:10). Maka sesungguhnya, doa Bapa Kami adalah pernyataan iman akan kehadiran rahmat Allah saat ini.
Henricus Witdarmono
sumber : hidupkatolik.com