Category Archives: Renungan

Renungan 25 Februari 2018

Ketaatan yang Membawa Keselamatan

Menurut Badan Kesehatan Dunia, sebanyak 22% korban tewas dalam kecelakaan adalah pejalan kaki. Penyebab yang terbanyak ternyata  ketidakhati-hatian pejalan kaki sendiri. Salah satunya adalah keengganan menggunakan fasilitas jembatan penyeberangan orang (JPO).  Keberadaan JPO kadang dianggap merepotkan. Betapa tidak, tujuan sudah tampak di seberang jalan tapi kita tidak bisa begitu saja menuju ke sana. Jika sedang terburu-buru atau cuaca terik, jarak menuju JPO yang hanya beberapa meter saja bisa jadi berkilo-kilo meter rasanya. Beberapa orang memilih untuk langsung menyeberang dan bikin lalu lintas jadi semrawut. Sekali dua kali dia selamat, tapi berikutnya siapa tahu?  Karenanya, setiap manusia dituntut untuk taat pada aturan.

Injil Markus hari ini mengisahkan peristiwa transfigurasi, saat Yesus berubah rupa dan dipenuhi cahaya kemuliaan di atas gunung. Yesus tampak berbincang dengan Elia dan Musa. Kejadiannya sungguh indah, membuat Petrus, Yakobus, dan Yohanes terkesima. Petrus bahkan punya ide membangun kemah di sana. Enam hari sebelum Yesus dan ketiga muridnya naik gunung, Ia memberitakan tentang Anak Manusia yang harus menderita, dibunuh, dan bangkit kembali. Yesus juga mengatakan bahwa syarat untuk mengikuti Dia adalah penyangkalan diri dan mau memikul salib. Ketaatan serupa pernah dilakukan Abraham saat hendak menjadikan Ishak sebagai korban bakaran demi mengikuti kehendak Allah (Kej. 22:12). Betapa pedih hati Abraham saat itu.

Masa Prapaska adalah saat refleksi diri. Seringkali kita serupa Petrus, maunya serba indah dan nyaman saja. Tidak mau tahu bahwa situasi seperti itu tidak terjadi begitu saja. Harus diupayakan,  bahkan jika perlu mengorbankan ego pribadi. Berat memang. Namun Allah tidak akan pernah meninggalkan umat yang dikasihiNya (Rm 8:31b). Di tengah rutinitas dan berbagai kendala yang ada, mari buka hati dan pikiran untuk mendengarkan suara Tuhan dan mematuhiNya (Mrk 9:7). Ketaatan pada Allah memampukan kita menjadi manusia baru dan menjadi saksi atas keselamatan yang telah diberikan. (ET)

Renungan 28 Januari 2018

FOKUSKAN HATIMU

Mungkinkah di dalam rumah ibadah yang suci ada roh jahat yang dapat merasuki seseorang? Seharusnya di tempat suci seperti itu roh jahat takut untuk berkeliaran di sana, apalagi sampai merasuki seseorang.  Namun pada kenyataannya di Kapernaum, saat Yesus sedang mengajar umat di sana,  ada seseorang yang  kerasukan roh jahat.  Ia berbuat onar dalam rumah ibadah  namun Yesus berhasil mengusirnya (Mrk. 1: 25). Banyak umat lainnya yang merasa takjub mendengar pengajaran  Yesus karena Ia mengajar sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat .   Ada daya Ilahi yang terpancar saat Yesus mengajar.  Yesus merupakan gambaran sempurna seorang nabi. Seperti  tertulis dalam Ulangan 18:18,  seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka,  seperti engkau ini; Aku akan menaruh FirmanKu dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadaNya.

Melalui bacaan pertama, kita diingatkan bahwa nyatanya  roh jahat sampai saat ini masih berkeliaran  di mana pun, bahkan di dalam rumah ibadah. Roh jahat meyusup secara halus sehingga kita tidak menyadarinya. Beberapa  contoh pengaruh roh jahat yang sering terjadi di rumah ibadah, misalnya: pencurian  uang kolekte,  penggelapan dana gereja,  pertikaian/konflik/arogansi  antar sesama umat atau bahkan dengan pemimpin umat, dan masih banyak kejahatan lainnya. Akibatnya,  hati  dan pikiran kita tidak fokus pada pekerjaan Allah,  semua yang kita lakukan hanya untuk kepentingan diri kita sendiri saja (1 Kor 7:32-35), bukan mewartakan kabar  gembira bagi sesama..

Sudahkah  kita memfokuskan  hati untuk menerima sabda-Nya sebagai sumber kehidupan kita? Hendaklah  Mazmur tanggapan hari ini : “Singkirkanlah penghalang sabda-Mu, cairkanlah hatiku yang beku, dan bimbinglah kami di jalan-Mu,”  dapat menjadi doa kita bersama, sehingga hati kita selalu tertuju pada-Nya dan penuh iman menjalankannya dengan penuh tanggung jawab, bukan sekedar takjub saja,

-NA-

Renungan 8 Oktober 2017

TAK BISA DIBINA, YA BINASA !

Ini adalah ungkapan kejengkelan atas kelakuan orang bersalah yang tak kunjung insaf meski telah berulangkali diingatkan dan diarahkan demi perbaikan. Apa boleh buat, alternatif terakhir untuk mengakhiri kelakuan salah itu adalah ‘disingkirkan’!  Entah dengan dipecat atau dihukum dengan cara lain.

Ungkapan di atas rupanya cocok untuk menggambarkan isi bacaan bacaan hari ini, Yes 5:1-7 dan Mat 21:33-43.  Keduanya tentang kebun anggur. Keduanya punya pesan sama.

Yes 5 bercerita tentang kebun anggur yang tak kunjung berbuah baik.  Padahal pemiliknya telah berupaya optimal agar kebun menghasilkan yang terbaik. Si kebun   seakan-akan enggan berubah menjadi kebun yang menghasilkan.  Ngeyel dalam keburukan, bersikeras untuk tidak produktif.  Mat 21:33-43 isinya lebih bertitik berat pada kelakuan para penggarap kebun. Alih- alih berbagi hasil sesuai kesepakatan, mereka malah berusaha mengangkangi kebun itu serta hasil panenannya. Kesabaran dan langkah persuasif pemilik kebun tak mempan untuk memperbaiki kelakuan jahat mereka. Sehingga akhirnya perlu diambil langkah dramatis untuk menyudahinya . Menyingkirkan mereka.

Kedua kisah bicara tentang keengganan untuk dibina, yang akhirnya berujung pada kebinasaan. Kebun anggur terpaksa dimusnahkan; para penggarap kebun dihukum keras. Moral ceritanya jelas : kalau  tak bisa dibina, ya binasa!

Apakah kebun anggur dan para penggarap itu gambaran diri kita?  Sebagai umat Allah yang tak kunjung berbuah baik, atau sebagai utusan Allah yang menyimpang dari tugas perutusannya? Bukannya berkarya demi kemuliaan Allah, malah berusaha merampasnya demi keuntungan pribadi.  Ujung dari semua itu adalah kebinasaan atau tersingkir.  Keselamatan yang Tuhan janjikan telah kita tolak mentah-mentah dengan sikap kera.

kepala menentang rencana dan kehendakNya. Jangan sampai ini yang terjadi, “Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan Itu” (Mat 21: 43)

Semoga sebaliknya kita bisa berlaku seperti yang tertulis dalam Flp 4:6-9, hanya yang benar, mulia, adil, suci, manis, sedap didengar.. pokoknya semua kebajikan.  Agar Allah sumber damai sejahtera menyertai kita. Sudah  berbuahkah saya dalam kehidupan ini?

HS

Renungan Harian Senin, 09 Februari 2015

Kebaikan

Pekan Biasa V; Kej 1:1-19; Mzm 104; Mrk 6:53-56
Selama seminggu ini Gereja mengajak kita untuk menggali inspirasi luar biasa dari kisah penciptaan alam semesta sampai terusirnya manusia dari taman Eden. Sebenarnya kalau kita mau teliti, terdapat dua versi kisah penciptaan manusia dalam Kitab Kejadian, yaitu Kej 1:1-2:3 dan Kej 2:4-3:24. Dua versi itu berasal dari tradisi yang berbeda dalam masyarakat Israel. Kedua versi ini dijadikan satu supaya kita memperoleh gambaran yang utuh tentang refleksi “dari mana manusia berasal?”
Allah dalam Kej 1:1-2:3 tampil sebagai Allah yang Mahakuasa dengan daya cipta yang luar biasa. Allah menciptakan dari ketiadaan karena bumi masih kosong dan tak teratur. Dengan Firman-Nya Allah bersabda, maka dengan sendirinya terbentuklah alam semesta. Tahap selanjutnya adalah Allah menamai setiap ciptaan- Nya dan mengatur kembali apa yang telah diciptakan-Nya. Setiap ciptaan diberi-Nya fungsi dan peranan untuk menghasilkan keteraturan alam semesta. Di tahap akhir Allah sendiri yang menilai hasil ciptaan- Nya dengan predikat: “Baik”, bahkan “Sangat Amat Baik” di hari keenam (ay.31).
Allah menciptakan manusia dalam kondisi yang “baik” bahkan “sangat amat baik”. Keteraturan dan kebaikan adalah identitas hakiki manusia. Itulah rahmat dan talenta terbaik yang dimiliki manusia sebagai makhluk ciptaan Allah. Ketika keteraturan itu terganggu keseimbangannya, timbul segala masalah bagi manusia
Josep Ferry Susanto
sumber : hidupkatolik.com

Renungan Harian Minggu, 08 Februari 2015

Memberitakan Injil

Minggu Biasa V: Ayb 7:1-4,6-7; Mzm 147; 1Kor 9:16-19,22-23; Mrk 1:29-39
Tidak ada orang yang suka sakit. Setiap orang berusaha menghindari penyakit, karena penyakit membuat orang menderita dan tak bisa beraktivitas: bekerja mencari nafkah, mengembangkan diri, dan menolong sesama. Orangpun berusaha mencegah dan mengobati penyakit supaya sehat dan tidak menderita.
Dalam Injil hari ini dikisahkan, Yesus menyembuhkan ibu mertua Petrus dan banyak orang yang menderita berbagai penyakit dan mengusir banyak setan. Di bagian lain dalam Injil sering dikisahkan, Yesus menyembuhkan orang sakit, bahkan menghidupkan orang mati. Apakah tujuan Yesus mengadakan mukjizat supaya Ia terkenal sebagai tukang mukjizat? Atau untuk menyembuhkan semua orang dan melenyapkan penyakit dari muka bumi ini sehingga tak ada lagi orang yang menderita? Pasti bukan demikian maksud-Nya.
Yesus datang ke dunia bukan untuk melenyapkan segala penyakit, sehingga tak ada lagi orang menderita. Setelah begitu banyak orang sakit dibawa kepada- Nya dan disembuhkan-Nya, keesokan harinya, waktu hari masih gelap, Yesus pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa untuk menggumuli tugas perutusan-Nya, yakni memberitakan Injil. Ketika Simon dan kawan-kawannya menjumpai Yesus dan memberitahukan bahwa semua orang mencari Dia, Yesus malah mengajak para murid-Nya pergi ke tempat lain, supaya di sana Ia juga dapat memberitakan Injil, karena untuk itulah Ia datang.
Yesus mau menyatakan, yang utama bagi-Nya bukanlah menyembuhkan orang sakit, tapi memberitakan Injil Kerajaan Allah yang telah Ia canangkan saat pertama kali tampil di hadapan umum: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” (Mrk 1:15). Penyembuhan dan pengusiran setan di rumah ibu mertua Simon tak bermaksud untuk menampilkan Yesus sebagai tukang mukjizat, tapi mau menyatakan bahwa Ia berkuasa menyembuhkan orang dan mengalahkan kuasa jahat. Hal ini agar orang tahu bahwa Kerajaan Allah sungguh hadir dalam diri-Nya, sehingga orang terbuka untuk menerima Kerajaan Allah yang diwartakan-Nya dan percaya. Biasanya, ketika menyembuhkan orang, Yesus meminta dari orang itu iman akan Kerajaan Surga.
Dengan menghindar dari permintaan dan harapan orang supaya semua orang sakit disembuhkan dan pergi ke tempat lain untuk mewartakan Injil, Yesus menjaga agar orang tak berfokus pada mukjizat penyembuhan dan tak salah pengertian atas Kerajaan Allah. Tetapi, supaya orang siap menerima Dia sebagai Mesias, Anak terkasih yang kepada- Nya Allah berkenan. Dialah Hamba Tuhan yang harus menderita dan memberikan nyawa- Nya untuk tebusan bagi semua orang. Ia juga ingin para murid siap menerima salib dan penderitaan sebagai jalan keselamatan sebagaimana dikatakan- Nya: “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku” (Luk 14:27). Para murid Kristus mesti sanggup menderita seperti Ayub dalam bacaan pertama hari ini, di mana dalam mengalami puncak penderitaannya ia tetap berserah kepada Tuhan karena iman yang teguh.
Menyadari tujuan utama Yesus ialah mewartakan Injil Kerajaan Allah, orang beriman tentu merasa terpanggil, bahkan wajib ikut serta mewartakan Injil seperti Paulus yang memberikan seluruh diri untuk mewartakan Injil dan berkata dalam bacaan kedua hari ini: “Celakalah aku jika tidak memberitakan Injil”, dan tidak mengharapkan upah. Paus Fransiskus dalam Seruan Apostolik Evangelii Gaudium (EG) menekankan, setiap orang yang telah dibaptis adalah murid-murid yang diutus, pelaku-pelaku evangelisasi atau pewartaan Injil yang mewartakan kasih Allah (bdk EG.120). Bapa Suci mengajak kita untuk mewujudkan perutusan dengan berusaha menghadirkan Kerajaan Allah dalam kata dan perbuatan nyata.
Dengan cara dan bentuk yang sederhana, ibu mertua Petrus memberi teladan kepada kita dalam mewartakan kasih Allah. Setelah disembuhkan, ia melayani Yesus dan para murid- Nya. Demikian hendaknya kita, orang beriman yang telah menerima keselamatan Yesus, memberi tanggapan dengan memberikan pelayanan kepada Tuhan dan sesama. Artinya, kita yang telah mengalami keselamatan dari Tuhan tak boleh diam saja, tapi wajib membagikan apa yang kita terima dari Tuhan kepada sesama, karena sikap dasar di dalam Kerajaan Allah yang diharapkan Yesus ialah berbagi, berbelarasa, dan berkorban demi sesama. Yesus berkata kepada murid- murid -Nya: “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma” (Mat 10:8).
Mgr Ludovicus Simanullang OFMCap
Uskup Sibolga

sumber : hidupkatolik.com

Renungan Harian Senin, 19 Januari 2015

Imam Agung

Pekan Biasa II; Ibr 5:1-10; Mzm 110; Mrk 2:18-22
Renungan harian minggu ini berbicara tentang Kristus, Imam Agung kita. Bagi orang Yahudi, Imam Agung adalah seorang suci yang melindungi manusia dari hukuman atas dosa. Sebagai Imam Agung, Kristus memulihkan hubungan antara manusia dan Allah, dengan mempersembahkan kurban silih atas dosa-dosa manusia. Kurban yang Dia per sembah kan bukan kurban bakaran biasa, melainkan diri-Nya sendiri. Hal itu mungkin konyol menurut pandangan orang-orang pada umumnya.
Namun dalam pandangan rohani kita, pengorbanan Yesus merupakan jalan utama bagi umat manusia untuk membarui hidup demi keselamatan kekal di bumi dan surga. Itu sebab, dalam Injil Dia mengatakan, “… anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula.” Yesus menegaskan bahwa pembaruan yang Dia bawa hendaknya diterima dan disimpan oleh orang-orang yang memiliki hati dan pikiran yang terbuka, serta mengharapkan pembaruan. Bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah siap membarui hidup?
Theresia Vita Prodeita
sumber : hidupkatolik.com

Renungan Harian Minggu, 18 Januari 2015

Menghantar Orang kepada Tuhan

Apakah hidup saya menghantar orang lain kepada Tuhan? Atau jangan-jangan saya bahkan tidak menghantar diri saya sendiri kepada Allah?
Minggu Biasa II: 1Sam 3:3b-10,19; Mzm 40; 1Kor 6:13c-15a,17-20; Yoh 1:35-42
Ada pemeo yang mengatakan, “Khotbah para imam membuat orang tertidur. Sementara sikap ugal-ugalan sopir angkot membuat orang berdoa. Siapakah dari keduanya yang menghantar orang kepada Tuhan?” Jawaban atas pertanyaan itu sangat jelas, yakni sopir angkot. Pemeo itu pastilah sekedar lelucon agar para romo menyiapkan khotbahnya dengan baik dan bukan menyuruh pak sopir angkot menyetir mobilnya secara ugal-ugalan.
Yohanes Pembaptis telah menunjuk Yesus sebagai “Anak Domba Allah”. Andreas pasti mengerti apa maksud kata-kata itu sesuai dengan keyakinan bangsa Yahudi. Andreas yakin bahwa ia telah berjumpa dengan Mesias yang diramalkan para nabi.
Imam Eli dalam Bacaan I seperti Yohanes Pembaptis dalam Injil. Eli meminta Samuel untuk mendengarkan Tuhan. Yohanes Pembaptis meminta Andreas dan murid lain untuk mengikuti Yesus, yang kemudian tinggal bersama-Nya. Masing-masing mereka telah menunjukkan keteladanan dengan menunjukkan jalan yang benar kepada muridnya, yakni menghantar mereka kepada Tuhan. Keteladanan itu juga dilakukan Andreas segera setelah bertemu Yesus. Andreas membawa Petrus kepada Yesus, “Kami telah menemukan Mesias”. Di kemudian hari, Andreas bersama Filipus bahkan membawa orang-orang asing, yakni orang-orang Yunani untuk menemui Yesus (Yoh 12:20-22). Dalam situasi kritis, ia juga pernah membawa kepada Yesus seorang anak kecil yang mempunyai dua ekor ikan dan 5 ketul roti yang dengan ikan dan roti itu Yesus memberi makan 5000 orang (Yoh 6:1-15). Di sini ada panggilan untuk menghantar semua orang, dari segala golongan, kepada Tuhan.
Setelah berjumpa dengan Tuhan, apa yang harus kita lakukan? Ada undangan yang sangat indah dari Yesus dalam Injil hari ini, “Marilah, dan kamu akan melihatnya”. Hari itu mereka tinggal bersama- sama Dia. Dalam hidup ini, kita diundang untuk tinggal bersama Tuhan. Apa artinya? Dari bacaan I maupun dari Injil, jawabannya jelas, yakni mendengarkan suara-Nya dan melakukan kehendak- Nya. Tinggal bersama Allah berarti belajar hidup dari Allah, menyesuaikan atau menyelaraskan hidup kita dengan hidup Allah. Kita diundang untuk sehati seperasaan dan senasib sepenanggungan dengan Allah. Hidup dan semangat Allah hendaklah menjadi hidup dan semangat kita (bdk. Gal 2:20).
Untuk tinggal bersama Yesus, Andreas meninggalkan Yohanes Pembaptis – gurunya. Petrus bahkan mengatakan bahwa para rasul harus meninggalkan segala-galanya (Mat 19:27). Kita juga dituntut hal yang sama. Hidup baru memang menuntut sikap dan mentalitas yang baru. Hal-hal yang tak sesuai dengan hidup baru harus kita tinggalkan. Mari kita mengingat: sejak kapan kita mengikuti Yesus? Apakah kita mengikuti- Nya dengan sepenuh hati? Apa tandanya bahwa kita telah hidup secara baru? Dari hidup lama kita, apa yang sudah kita tinggalkan dan yang tidak rela kita tinggalkan?
Jika kita menjadi murid Yesus dan tidak rela membaharui diri, masih menghidupi cara hidup lama yang tak sesuai dengan cara hidup Yesus, itu adalah tanda kita baru setengah-setengah dalam mengikuti Yesus. Lebih jauh sebenarnya bisa dikatakan cara hidup seperti itu berarti kita masih malu menjadi pengikut Yesus. Padahal Allah sendiri tidak malu menjadi Allah kita, kalau kita mau mendengarkan suara-Nya (bdk. Yer 7:23). Yesus juga tidak malu tinggal bersama kita (bdk. Yoh 15:4-5). Lebih jelas lagi di dalam Ekaristi, Yesus mau menjadi makanan dan minuman kita. Itu artinya Tuhan sendiri menginginkan tinggal di dalam diri kita. Kita dijadikan tempat kediaman- Nya, bait kudus-Nya (1Kor 16:9). Jadi, jika kita tinggal bersama Allah. Ada nilai sosial yang dalam ketika Tuhan tidak malu tinggal bersama kita. Masing-masing kita, karena menjadi tempat tinggal Tuhan, menjadi bermartabat mulia. Setiap manusia berkewajiban memelihara hidupnya yang merupakan anugerah Allah dengan baik dan tidak mencemarinya (1Kor 6:13c-15a,17-20 ).
Sesungguhnya manusia bukan tuan atas dirinya. Kita tidak boleh memperlakukan diri kita sesuka hati. Tuan atas diri kita adalah Allah. Dengan demikian, tidak seorangpun dari anak manusia boleh diperlakukan tidak adil, apalagi dilecehkan dan direndahkan martabatnya. Tak seorang pun boleh dieksploitasi untuk kepentingan pribadi lain. Apakah hidup saya menghantar orang lain kepada Tuhan? Atau jangan-jangan saya bukan hanya tidak menghantar orang kepada Tuhan, melainkan bahkan saya tidak menghantar diri saya ’ sendiri kepada Allah?
Mgr Yohanes Harun Yuwono
Uskup Tanjungkarang
sumber : hidupkatolik.com

Renungan Harian Senin, 12 Januari 2015

 Senin, 12 Januari 2015 (Hari Biasa Pekan I )
  
Ibr. 1:1-6; Mzm. 97:1,2b,6,7c,9; Mrk. 1:14-20
 
“Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.”

 Panggilan Tuhan terjadi dalam kehidupan sehari-hari yang biasa, sebagaimana Ia memanggil Simon, Andreas, Yohanes dan Yakobus dalam keseharian mereka sebagai nelayan. Panggilan Tuhan juga tidak selalu membuat kita harus berubah atau berganti profesi. Keempat murid pertama yang adalah penjala ikan, setelah mengikuti Yesus mereka pun tetap sebagai pejala. Bedanya, kalau sebelumnya mereka adalah menjalan ikan, kini mereka adalah penjala manusia. Kalau sebelumnya mereka menjala ikan untuk dijual agar mendapat uang/keuntungan, kini mereka menjala manusia untuk dimasukkan dalam lingkaran sahabat Yesus dan diselamatkan. Kalau sebelunya, mereka harus menyeleksi ikan-ikan yang ditangkapnya dan yang buruk dibuangnya, kini justru mereka harus memberi perhatian lebih kepada yang lemah, kecil dan menderita. Marilah, dalam keseharian kita, kita juga semakin peka untuk mendengarkan panggilan Tuhan. Sekali lagi, panggilan-Nya tidak selalu berarti bahwa ktia harus beralih profesi. Bisa saja pekerjaan kita tetap sama, tetapi dengan mengikuti Yesus, kita menghayatinya secara lain, dengan semangat baru. Bukan lagi kehendak dan kekuatan kita sendiri yang mendominasi tetapi kehendak dan rahmat Tuhanlah yang berkerja dalam diri kita.

Doa: Tuhan, semoga kami semakin peka untuk mendengarkan dan kemudian mengikuti panggilan serta kehendak-Mu dalam hidup kami sehari-hari. Amin. -agawpr
sumber : renunganpagiblogspot.com

Renungan Harian Rabu, 07 Januari 2015

Tahun Pembebasan

Pekan Biasa Sesudah Penampakkan Tuhan; 1 Yoh 4:19-5:4; Mzm 72; Luk 4:14-22a
Seseorang baru akan menjadi nabi kalau ia dipenuhi Roh Allah yang memanggil dan mengutus. Yesus dipenuhi Roh Allah. Mereka yang telah melihat perkataan dan perbuatan Yesus segera percaya bahwa Ia adalah seorang nabi besar (bdk. Luk 7:16), seperti Nabi Yesaya, Yeremia, dan Yehezkiel.
Tapi Yesus lebih besar daripada seorang nabi. Yesus mengutip teks Yesaya 61:1-2 yang ditulis ketika bangsa Israel kembali dari pembuangan. Mereka ingin membangun kembali kemuliaan Yerusalem, namun mereka sangat miskin dan tidak memiliki kekuatan. Impian itu terealisir dalam dan melalui Yesus Kristus dengan cara yang berbeda. Dalam kuasa Roh Kudus, Ia mewartakan pembebasan bagi semua yang terbelenggu.
Kita yang membaca teks ini dapat bertanya, apakah pembebasan sejati yang diwartakan Yesus akan terjadi se cara tiba-tiba dalam keluarga, Gereja, dan komunitas basis kita? Tentu tidak demikian. Sabda Yesus memberikan motivasi dan cara pandang baru, harapan, dan kekuatan untuk bergumul dengan kenyataan- kenyataan yang sulit dan membangun hidup baru, di mana setiap orang membiarkan Allah merajai hatinya.
Sr Grasiana PRR
sumber : hidupkatolik.com

Renungan Harian Selasa, 06 Januari 2015

Memberi Makan

Pekan Biasa Sesudah Penampakan Tuhan; 1 Yoh 4:7-10; Mzm 72; Mrk 6:34-44
Mukjizat penggandaan roti dan ikan diceriterakan semua Injil. Penginjil Markus memaparkan sikap para murid yang mendesak Yesus agar segera memulangkan orang banyak itu sebelum hari menjadi malam, sehingga mereka dapat membeli makanan di desa-desa tetangga. Kecemasan para murid berkaitan dengan soal makanan.
Sebaliknya, Yesus justru meminta mereka memberi orang-orang itu makan. Tampak bahwa para murid tidak berdaya melakukan sesuatu, “Jadi haruskah kami membeli roti seharga dua ratus dinar untuk memberi mereka makan?” Dua ratus dinar adalah upah kerja dua ratus hari bagi seorang pekerja (bdk. Mat 20:10). Jumlah sebesar itu pun tidak cukup untuk memberi makan sekian banyak orang.
Kisah ini menunjukkan bahwa para murid belum mengenal Yesus. Mereka heran dan merasa aneh, ketika Yesus meminta mereka memberi makan orang banyak itu. Sikap negatif para murid menggambarkan pengertian dan iman mereka masih lemah. Mereka belum melihat Yesus sebagai sumber yang memberi hidup. Yesus berbelas kasih terhadap orang banyak yang haus dan lapar. Mereka telah dipuaskan dengan sabda-Nya dan kini, Ia ingin mengenyangkan mereka dengan makanan jasmani.
Di sekitar kita masih ada banyak lapar, sakit, dan menganggur. Seperti para murid, Yesus juga meminta kepada kita; “Cobalah periksa!” dompet-dompet dan gudang simpananmu; masih adakah sesuatu yang dapat diberikan ke pada saudara- saudari yang sangat membutuhkan?
Sr Grasiana PRR
sumber : hidupkatolik.com