Renungan 8 Oktober 2017

TAK BISA DIBINA, YA BINASA !

Ini adalah ungkapan kejengkelan atas kelakuan orang bersalah yang tak kunjung insaf meski telah berulangkali diingatkan dan diarahkan demi perbaikan. Apa boleh buat, alternatif terakhir untuk mengakhiri kelakuan salah itu adalah ‘disingkirkan’!  Entah dengan dipecat atau dihukum dengan cara lain.

Ungkapan di atas rupanya cocok untuk menggambarkan isi bacaan bacaan hari ini, Yes 5:1-7 dan Mat 21:33-43.  Keduanya tentang kebun anggur. Keduanya punya pesan sama.

Yes 5 bercerita tentang kebun anggur yang tak kunjung berbuah baik.  Padahal pemiliknya telah berupaya optimal agar kebun menghasilkan yang terbaik. Si kebun   seakan-akan enggan berubah menjadi kebun yang menghasilkan.  Ngeyel dalam keburukan, bersikeras untuk tidak produktif.  Mat 21:33-43 isinya lebih bertitik berat pada kelakuan para penggarap kebun. Alih- alih berbagi hasil sesuai kesepakatan, mereka malah berusaha mengangkangi kebun itu serta hasil panenannya. Kesabaran dan langkah persuasif pemilik kebun tak mempan untuk memperbaiki kelakuan jahat mereka. Sehingga akhirnya perlu diambil langkah dramatis untuk menyudahinya . Menyingkirkan mereka.

Kedua kisah bicara tentang keengganan untuk dibina, yang akhirnya berujung pada kebinasaan. Kebun anggur terpaksa dimusnahkan; para penggarap kebun dihukum keras. Moral ceritanya jelas : kalau  tak bisa dibina, ya binasa!

Apakah kebun anggur dan para penggarap itu gambaran diri kita?  Sebagai umat Allah yang tak kunjung berbuah baik, atau sebagai utusan Allah yang menyimpang dari tugas perutusannya? Bukannya berkarya demi kemuliaan Allah, malah berusaha merampasnya demi keuntungan pribadi.  Ujung dari semua itu adalah kebinasaan atau tersingkir.  Keselamatan yang Tuhan janjikan telah kita tolak mentah-mentah dengan sikap kera.

kepala menentang rencana dan kehendakNya. Jangan sampai ini yang terjadi, “Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan Itu” (Mat 21: 43)

Semoga sebaliknya kita bisa berlaku seperti yang tertulis dalam Flp 4:6-9, hanya yang benar, mulia, adil, suci, manis, sedap didengar.. pokoknya semua kebajikan.  Agar Allah sumber damai sejahtera menyertai kita. Sudah  berbuahkah saya dalam kehidupan ini?

HS

Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>