Perjamuan Kudus

perjamuan kudus

Tulisan ini dibuat berkaitan dengan acara kreatif  PPG Santo Ambrosius yaitu  ‘Gala Dinner’  dalam rangka menggalang dana untuk gereja St. Ambrosius. Saya tak ikut dalam acara ‘Gala Dinner’ itu, tetapi saya punya telinga untuk mendapatkan informasi tentang acara tersebut. Makan malam besar yang mewah dan istimewa itu mengingatkan kita akan sebuah perjamuan lain yang bila dilihat dari mewahnya, jauh dari kemewahan ‘Gala Dinner’ yang sudah terselenggara  kemarin.

Makan malam mini meski tak semegah ‘Gala Dinner’ kemarin, jauh lebih agung, lebih menyentuh, lebih kudus, dan mempunyai makna imani dan historis. Makan malam yang saya maksud adalah makan malam yang terselenggara 2000 tahun lebih sebelum kita ada. Pasti para pembaca sudah menangkap arah yanag saya maksud. Ya, betul, ini adalah tentang Perjamuan Terakhir, Makan Malam yang super duper istimewa. Mengapa? Karena berpangkal dari perstiwa ini akhirnya menjadi cikal bakal  Perayaan Ekaristi yang sekarang kita ikuti.

Pada umumnya orang Kristen percaya bahwa mereka diperintahkan Yesus untuk mengulangi peristiwa perjamuan ini untuk memperingati-Nya (“… perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!” – 1 Kor. 11:24, 25).  Namun berbagai aliran Gereja Kristen memberikan pengertian yang berbeda-beda pula terhadap sakramen ini.  Gereja kita lebih  menekankan arti perjamuan kudus sebagai sarana keselamatan bagi umat. Perjamuan itu kita selenggarakan dalam sebuah perayaan yang disebut Ekaristi. Di dalam perayaan itu ada tatacara tersendiri sehingga peringatan perjamuan itu benar-benar menjadi peraingatan akan Dia yang akhirnya tergantung di salib untuk menebus dosa manusia.

 Bagi kita umat Katolik, ketika perjamuan kudus, imam membagikan tubuh Kristus dalam rupa roti yang disebut hosti atau komuni. Makna penerimaan komuni adalah merujuk kepada parsitipasi umat dalam peristiwa karya penebusan Tuhan yag dihadirkan pada waktu Doa Syukur Agung yang dibawakan oleh Imam. Komuni atau Hosti Suci yang umat terima akan menghubungkan dan memasukkan umat kedalam karya penebusan Tuhan. Karena  itu perayaan Ekaristi bukan sesuatu yang biasa saja, tetapi sesuatu yang sakral.

Matius dan Markus mencatat: Dan ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata: “Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku.” Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: “Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa. Akan tetapi Aku berkata kepadamu: mulai dari sekarang Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur ini sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, bersama-sama dengan kamu dalam Kerajaan Bapa-Ku.”

Berkaitan dengan kesakralan Ekaristi, saya mau berbagi rasa ya, begini: Terkadang saya suka merasa jengkel juga dengan beberapa umat yang sepertinya kurang menyadari makna Ekaristi dengan baik. Anak perempuan saya mengatakan: ibu itu suka ingin ngatur orang, mentang-mentang guru. Biarin aja, Bu, itu kan masalah penghayatan seseorang, ibu gak usah terlalu ikut campur. Begitu katanya. Namun, tetap saja hati saya suka jengkel kalau ada orang yang sapenak udele dhewek kalo sedang Ekaristi. Ok, lah kalau dia bernasib sama dengan saya yang harus menggiring anak. Tapi ada lho yang legan pun malah seenaknya sendiri. Ya, mungkin belum tahu tentang makna Ekaristi. Di Gereja St. Ambrosius belum lihat si mbak-mbak suster atau ibu-ibu yang menyuapi anaknya sambil jalan mondar-mandir. Jangan, ya! Itu pemandangan sungguh tak sedap dipandang dan rasanya tak layaklah. Ah, saya yakin umat Gereja St. Ambrosius menyadari akan kesakralan Ekaristi. O, ya tapi saya sering lihat ada yang masih datang telat lho! Minggu tanggal 8 September 2013 saya melihat satu keluarga datang ketika Romo Pandoyo sedang berkhotbah. Namun, keluarga itu tetap masuk juga tuh saya lihat. Saya berpikiran positif, mungkin keluarga ini  baru pertama kali misa di St Ambrosius sehingga belum tahu jadwalnya. Semoga saja perkiraan saya benar.

Guna dari sakramen Perjamuan Kudus

Untuk mendorong umat, khususnya umat di St. Ambrosius menghayati Ekaristi dengan lebih baik, mari kita melihat ulasan di bawah ini:

Ekaristi bisa dijadikan sebagai dorongan bagi kita untuk secara periodik menilai diri (self correction) dalam arti, mengadakan koreksi atas hati dan pikiran kita, karena syarat untuk dapat ikut dalam perjamuan kudus ialah bahwa kita harus membersihkan hati dan pikiran kita sedemikian rupa sehingga keikutan kita makan roti dan minum anggur dari cawan Perjamuan Kudus itu adalah dalam keadaan rohani yang layak dan iman yang tidak ragu-ragu (1 Korintus 11:28-29).

Dengan ikut Perayaan Ekaristi berarti kita ikut andil dan berparsitipasi umat dalam peristiwa karya penebusan Tuhan dalam  acara Doa Syukur Agung. Diharapkan kita juga bisa membagikan damai dan sukacita Tuhan dalam hidup kita sehari-hari kepada orang-orang yang kita jumpai. Dengan begitu kita pun andil dalam karya keselamatan Tuhan dalam hidup kita.

Di sini juga ada pengampunan dosa. Dari sederet tata perayaan Ekaristi terdapat doa tobat, meminta ampun atas segala dosa. Kita tak luput dari dosa. Meski kita tak berniat membuat dosa, tetapi tak sengaja kita melakukannya. Karena itu pengampunan dosa yang terus menerus itu harus agar hidup kita seimbang.

Ketika kita menerima Tubuh Kristus (dan juga Darah Kristus), itu berarti Yesus sendiri yang hadir dan berkuasa atas seluruh raga, jiwa, dan roh kita. Kita memasrahkan seluruh hidup kita pada kuasa perlindungan Bapa, Putra, dan dalam terang Roh Kudus. Segala gerak dan hidup kita biarlah Dia yang mengatur. Dengan begitu kita memasrahkan dengan total seluruh hidup kita: kesehatan kita, kehendah, keinginan, dan segala hasrat, serta daya upaya kita. Kita juga mengharapkan perlindungan dari segala yang jahat hingga kita selamat di dunia dan juga di akhirat kelak.

Perayaan Ekaristi juga mempunyai dampak sosial. Dalam perayaan itu kita bertemu dengan saudari-saudara seiman kita. Kita bisa mendapat kekuatan untuk bisa menjalani kehidupan kita yang tak selalu berjalan dengan lancar. Kita melihat banyak juga teman-teman, sanak, saudara yang menjadi bagian dalam hidup kita. Yang kita percayai bahwa mereka juga mendukung saya dengan doa – doa mereka. Bersama dengan saudara seiman kita bersekutu dalam doa untuk kebaikan hidup di dunia.

Selain berdampak sosial, ternyata juga bisa berdampak psikologis. Beberapa orang merasa kalau sudah mengikuti Ekaristi merasa nyaman, tenang, dan lebih siap untuk menghadapi hidup seminggu ke depan. Doa dan nyanyian yang diikuti dan didengarkan di gedung gereja, ternyata mampu memberi energi positif pada banyak orang. Rasanya lebih mantap dan siap  setelah mengikuti Ekaristi.  Orang kembali bisa menghadapi segala beban hidup dengan lebih percaya diri serta yakin bahwa tak ada masalah yang tak bisa diselesaikan.

Bagi beberapa orang Ekaristi itu nagih, mencandu, orang jadi addict. Ya, silakan saja, tetapi juga harus ingat akan kenyataan hidup yang dihadapi sehari-hari. Yesus pun tak terus menerus berada di Puncak Gunung Tabor untuk berdoa. Dia pun turun gunung untuk berkarya mewartakan kabar keselamatan.

Pada beberapa umat yang belum tertarik untuk bergabung dalam Ekaristi, Tuhan mengundang untuk datang ke Pesta Perjamuan-Nya. Monggo hadirlah! Jangan sampai Tuhan menegur atau memberi peringatan yang agak keras, baru bingung. Atau lebih parah lagi sudah telat. Belum sampai hadir di Pesta Perjamuan Kudus, malah sudah dipanggil Tuhan dulu. Mending kalau roh kita sampai pada Bapa. Kalau tidak? Mau ke mana kita? Nah, kalo yang ini sangat rugi! Kasih sayang Tuhan  dijamin memberikan Anda kelegaan dan keselamatan dunia-akhirat. Paketnya lengkap deh pokoknya! Karena itu hadirlah di Pesta Perjamuan-Nya!

 Ch. Enung Martina

Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>