Melayani sesuai KEMAUAN dan KEMAMPUAN

melayani
Pada hari Minggu tanggal 21 Juli 2013, saya mengikuti Ekaristi di Gereja St. Ambrosius. Seperti yang diketahui oleh sebagian pembaca, saya ini kalau perayaan Ekaristi pasti tidak akan duduk manis di dalam ruangan ber-ac yang adem dan silir-silir itu. Melainkan, saya akan berkeliling mengitari seluruh gedung gereja karena saya bertugas mengasuh anak batita yang egosentris, yang tentunya belum bisa duduk manis mengikuti alur liturgi. Namun, meski sambil berjalan-jalan dan mengawasi anak, saya berusaha memasang kuping untuk mengikuti Ekaristi yang sedang terselenggara. Nah, hari itu saya tertarik dengan khotbah Romo Yulianus Yaya Rusyandi OSC, dalam khotbahnya beliau menyinggung tentang melayani Tuhan sesuai kemampuan. Karena itu saya mencoba menulis tentang topik tersebut berkaitan dengan keikutsertaan umat dalam pembangunan gedung gereja Santo Ambrosius.
Respon manusia dalam pengabdiannya kepada Tuhan: ada orang yang mau melayani Tuhan tetapi tidak mampu, ada orang yang mampu melayani Tuhan tetapi tidak mau.
Bagaimanakah kita agar dapat mencapai keseimbangan antara kemampuan dan kemauan? Menurut beberapa sumber yang pernah saya baca dalam pelayanan ini kita memerlukan pengenalan diri ! Dimanakah ukuran iman yang dikaruniakan Allah kepada kita? Kita harus yakin bahwa kita dapat mengerjakan apa pun tugas yang semestinya kita jalani di dunia ini, termasuk dalam pelayanan Gereja. Karena iman yang sejati tidak disertai ketakutan, iman yang benar disertai keberanian. Karena itulah jangan merasa kuatir akan ketidakmampuan kita untuk melayani. Bila ada kemauan maka semua kemampuan akan mengikuti. Pelayanan bisa dalam berbagai cara. Masih ingat tentang artikel saya yang berjudul Indanya Memberi? (http://serpong.santoambrosius.org/2013/02/indahnya-memberi/)
Dalam pelayanan kita bisa memberikan diri kita, harta kita, waktu kita, tenaga kita, pikiran, ide, dan doa kita.
Siapa saja dan dimana saja- harus mempunyai kemauan untuk melayani Tuhan sesuai dengan kemampuan yang Tuhan berikan kepadanya. Orang Kristen harus MAU melayani Tuhan berdasarkan KEMAMPUAN yang ada padanya. Tuhan menuntut kita memberikan menurut apa yang ada pada kita, bukan menurut apa yang tidak ada. Tuhan tidak menuntut apa yang tidak ada, tetapi Ia menuntut apa yang ada untuk diserahkan kepada-Nya. Tuhan menanyakan apa yang ada, bukan yang tidak ada. Yang ada hanya lima roti dan dua ikan, tetapi Tuhan mengatakan cukuplah! Tuhan tidak meminta 10 roti dan 10 ikan. Ia hanya meminta apa yang ada dan Ia menerima apa yang ada itu.
Itulah kemampuan dan kemauan untuk memberikan apa yang dipunyai. Maka, disitulah mujizat terjadi!
Sukacita dalam Pelayanan
Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Itu penting dalam hidup dan pelayanan. Kita tahu bahwa dalam pelayanan itu tak selalu mulus, ada tantangannya, ada penderitaanya. Demikian pula kita ketahui bahwa setiap orang mempunyai salibnya masing-masing dalam hidupnya. Namun, Saudara, masalah dan beban hidup tidak seharusnya menjadi alasan untuk mundur dari pelayanan kepada Tuhan, pencobaan-pencobaan yang kita alami adalah pencobaan-pencobaan biasa. Semua yang Tuhan ijinkan terjadi tidak mungkin melebihi kekuatan manusia (1 Kor 10:13). Justru dalam pelayanan semua beban akan terasa ringan karena kita mendapat penghiburan dan juga jalan keluar dari saudara-saudari seiman bila kita mau berbagi.  Saya pernah mendengar ungkapan kehidupan kita adalah pelayanan kita, itulah ibadah iman kita kepada Tuhan. Melakukan segala detail kehidupan kita sebagai sebuah ibadah (seperti khotbah tarawih di bulan Ramadhan kedengarannya).
Menurut beberapa sumber, supaya kita menemukan sukacita dalam pelayanan kita kepada Tuhan, ada beberapa hal yang harus kita perhatikan saat melayani. Di antaranya adalah pertama melayani dengan motivasi yang benar. Saat kita mengikuti Tuhan, berbakti, dan mentaati perintah Tuhan, pastikan kita melakukan semua itu dengan motivasi dan sikap hati yang benar. Pelayanan bukan untuk tujuan yang bersifat duniawi karena ingin mencari relasi bisnis misalnya. Itu bukan contoh motivasi yang benar. Sebenarnya kita tidak memerlukan alasan lagi mengapa harus melayani Tuhan, Pengorbanan-Nya untuk keselamatan kita dan kasih-Nya yang unconditional – tak berkesudahan – setiap saat,  sebenarnya sudah lebih dari cukup bagi kita sebagai alasan yang paten. Pelayanan kita menjadi bukti kasih kita kepada Tuhan, kasih yang murni tanpa tujuan-tujuan terselubung yang mementingkan diri sendiri. Setiap pelayanan yang dimulai dan didasari oleh motivasi yang salah, tidak akan bisa bertahan lama. Kita bisa saja terlihat sangat rohani dan luar biasa dalam pelayanan, tetapi bukan apa yang kelihatan mata manusia yang dilihat oleh Allah melainkan apa yang ada dalam hati kita. Saat kita melayani dengan dasar kasih yang murni kepada Tuhan, kita tidak akan mudah kecewa dengan keadaan ataupun perlakuan orang lain. Kita tidak akan mudah kecewa karena kita berfokus pada perkenanan Tuhan, kita melayani Tuhan karena kita mengasihiNya dan ingin mempersembahkan yang terbaik bagi-Nya bukan untuk memperoleh pujian, penghargaan ataupun imbalan.
Kedua, melayani sesuai dengan panggilan.  Kita akan bersukacita melayani jika kita melayani sesuai dengan panggilan kita, sesuai dengan kasih karunia dan talenta yang Tuhan percayakan kepada kita. Tidak perlu memaksakan diri untuk apa yang bukan bagian kita atau apa yang tidak bisa kita lakukan. Lakukan yang terbaik sesuai kapasitas kita sebagai pelayanan dan persembahan bagi Tuhan. Tuhan tidak pernah meminta kita melakukan apa yang tidak bisa kita kerjakan atau menyuruh kita mengerjakan sesuatu tanpa memperlengkapi kita dengan apa yang kita butuhkan. Setiap karunia, kelebihan dan talenta yang kita miliki adalah perlengkapam yang Tuhan percayakan untuk digunakan dalam mendukung pelayanan dan pekerjaan Tuhan. Kita harus mulai mengenali kelebihan dan kemampuan yang Tuhan anugrahkan  dalam diri kita, mengembangkan dan mengunakannya untuk melayani Tuhan.
Hal yang ketiga dalam pelayanan dalam melayani Tuhan perlu adanya keseimbangan antara roh, jiwa dan tubuh kita. Tubuh dan jiwa kita juga memerlukan waktu untuk beristirahat dari semua kesibukan dan kegiatan pelayanan kita. Selain aktif dalam melayani kita juga harus tetap menjaga kualitas hubungan pribadi kita dengan Tuhan sebab itulah sumber kasih dan kemampuan kita dalam melayani Tuhan. Kita tidak mungkin dapat membagi kasih kepada orang lain lewat pelayanan kita jika kita tidak terus menjaga hubungan kita dengan sumber kasih yaitu Tuhan. Membangun hubungan dan mencari kehendak Tuhan juga merupakan pelayanan kita kepada Tuhan.
Persembahkanlah yang terbaik dalam pelayanan kerohanian kita dan jadilah excellent, extra ordinary, luar biasa dalam setiap tanggung-jawab keseharian yang dipercayakan kepada kita, dalam studi, pekerjaan, termasuk dalam keluarga. Jadilah garam dan terang  kepada dunia bahwa kita adalah pengikut Kristus. Kita melayani tetapi kita juga bisa berprestasi dalam studi, kita bisa sukses dalam pekerjaan, dapat dipercaya dan berhasil dalam keluarga kita. Kita akan dapat bersukacita dalam melayani Tuhan karena kita mengerti kita sedang mengerjakan apa yang dikehendaki-Nya, memaksimalkan potensi yang sudah Tuhan percayakan kepada kita dengan tetap menjaga keseimbangan dalam hidup. Selamat melayani Tuhan bagi para pelayan-Nya!
Ch. Enung Martina (team humas PPG St. Ambrosius)

Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>