Gereja dan Pendidikan

bible_people

PENDIDIKAN adalah salah satu aspek yang sangat penting dan strategis bagi kehidupan manusia. Sebagai sesuatu yang khas dan spesifik bagi manusia, pendidikan berperan amat signifikan dalam membekali manusia untuk menyongsong masa depan yang akan dijalani yang diwarnai dengan berbagai tantangan dan perubahan.

Suatu program pendidikan yang tidak mampu membawa perubahan, baik dalam informasi, pengetahuan, keterampilan, maupun dalam sikap mental akan kehilangan maknanya yang hakiki dalam konteks upaya pencerdasan manusia.

Lembaga-lembaga keagamaan memiliki peran yang amat penting dalam pelayanan di bidang pendidikan. Kelahiran sekolah-sekolah Katolik akhir abad ke-19, sekolah-sekolah Muhammadiyah (tahun 1912), sekolah- sekolah Kristen (1920) dan lembaga pendidikan Maarif tahun 1929 adalah bukti nyata kepedulian lembaga keagamaan terhadap bidang pendidikan.

Sekolah-sekolah tersebut yang dibangun dengan menampilkan ciri khas dan identitas masing-masing, diakui banyak orang telah memberi kontribusi yang tidak kecil bagi kemajuan pendidikan di Indonesia. Dengan kemandirian itu, pimpinan dan pengelola sekolah-sekolah swasta dituntut untuk selalu kreatif dan inovatif dalam meningkatkan penampilan sekolah. Sehubungan dengan ciri khas, selama ini ciri khas meliputi ciri khas yang berkaitan dengan agama, kebudayaan, kebangsaan dan lain-lain. Sebagai ilustrasi misalnya, sekolah-sekolah swasta yang mempunyai ciri khas keagamaan hendaknya dapat berfungsi maksimal dalam mengembangkan nilai-nilai agama yang menunjang era industrialisasi.

Gereja-Gereja di Indonesia telah sejak lama memahami bahwa Sekolah- sekolah Kristen (baca: lembaga pendidikan Kristen/Katolik) adalah wahana yang paling strategis tidak saja dalam konteks pencerdasan kehidupan bangsa, tetapi juga dalam memperkenalkan membagikan serta mentransfer nilai-nilai kristiani kepada para peserta didik.

Sekolah-sekolah merupakan ujung tombak tatkala Gereja dan komunitas Kristen/Katolik berinteraksi denagn masyarakat luas.

Dalam konteks itu, di masa depan hubungan Gereja dengan sekolah harus terus menerus dipelihara, dibina dan dikembangkan. Gereja tidak boleh apatis dan membiarkan sekolah berjalan sendiri, lepas dari visi dan misi yang diemban oleh Gereja sebagai persekutuan yang diberi mandat oleh Tuhan untuk mewujudkan Kerajaan Allah di kekinian zaman.

Artinya, sebuah kekristenan yang hanya dipresentasi melalui pengadaan kebaktian dan doa, pada hiasan-hiasan ayat Alkitab yang terpampang di dinding; tapi kekristenan yang menjadi norma, standar, roh dari kehidupan dalam sekolah tersebut.

Dan, hal itulah yang harus menjadi agenda Gereja dan sekolah di masa depan. Di tengah era kompetisi dan liberalisasi sekarang ini, tatkala mutu menjadi andalan utama, masyarakat tidak akan mempersoalkan lembaga mana yang menjadi penyelenggara sebuah lembaga pendidikan. Gereja dan sekolah dapat bersama-sama memecahkan masalah ini dengan mengembangkan pola subsidi silang atau beasiswa, misalnya sehingga peran sekolah sebagai wahana pencerdasan dan penumbuhan nilai-nilai Kristiani tetap terwujud.

Banyak Gereja di Indonesia yang concern terhadap dunia pendidikan demi pencerdasan kehidupan bangsa. Pendidikan memegang posisi dan peranan yang sangat strategis dalam pembangunan manusia Indonesia seutuhnya. Hal ini disebabkan oleh karena keutuhan yang diharapkan dibentuk dan diwujudkan melalui pendidikan pada kenyataannya malah dikhianati sendiri oleh suatu tradisi pendidikan yang lebih memberi penghargaan hanya kepada siswa atau mahasiswa yang berprestasi tinggi dalam pengetahuan dan berketerampilan baik dalam bidang tertentu saja.

 Penghargaan yang sifatnya mengarah kepada pendidikan yang melakukan pengembangan nilai-nilai dalam pembentukan karakter manusia seutuhnya malah tidak mendapat tempat. Kita memiliki banyak orang yang terdidik dan terlatih dengan baik dalam bidangnya. Namun, di sisi lain harus kita akui pula bahwa negeri ini juga dirusak oleh orang-orang cerdas dan terampil yang telah kehilangan atau bahkan sama sekali tidak pernah memiliki nilai-nilai luhur moral dan iman. Kelihatannya mayoritas pendidikan di dalam Gereja dan oleh Gereja masih berorientasi pada urusan-urusan internal yang cakupannya sangat terbatas. Bahkan tidak sedikit yang merasa soal-soal tersebut bukanlah urusan Gereja dan membiarkan pemerintah mengambil alih urusan ini. Mengapa sebenarnya Gereja harus terlibat dalam hal ini?

Dengan kata lain hal ini mengisyaratkan bahwa pendidikan dan Gereja bukanlah hal yang terpisah dan Gereja dalam hal ini berfungsi sebagai lembaga yang bertugas untuk mendidik. Dalam hal ini tercermin bahwa Gereja tidak dapat melarikan diri dari unsur yang merupakan bagian dari pembentukan jati dirinya. Gereja harus mengambil peran sebagai ‘garam’ dan ‘terang’ dalam dunia pendidikan. Pikiran-pikiran yang berkembang dalam benak umat seringkali bersandar pada pikiran-pikiran sekuler-humanistik yang egois sekalipun mereka adalah warga Gereja dan dibina dalam dan oleh Gereja.

Ancaman bagi pendidikan Gereja dan oleh Gereja bukanlah datang dari agama-agama lain. Pendidikan yang sekuler-humanistik belakangan ini malah semakin merajalela bahkan ironisnya tidak memberi ruang yang memadai bagi pendidikan agama yang dikerjakan Gereja dalam dunia pendidikan atau bahkan oleh agama-agama lainnya. Kini secara konkrit apa yang sebenarnya yang harus Gereja kerjakan? Diabaikannya pikiran Gereja dari lingkungan pendidikan juga dapat disebabkan oleh karena ketidakrelevanan berita Gereja dalam konteks pendidikan bagi generasi muda dan bagi zaman modern karena pola pendekatan yang tidak diperbarui.

Pemutakhiran literatur pendidikan agama merupakan langkah yang harus dikerjakan Gereja sesegera mungkin melalui jejaring Gereja yang sudah ada dengan berkoordinasi dengan berbagai pihak yang memungkinkan terwujudnya maksud tersebut. Namun yang terpenting yang harus disadari Gereja adalah bahwa tanggung jawab itu berada di tangan Gereja sendiri. Itu berarti tantangan bagi kita semua sebagai bagian dari Gereja.

 (Ch Enung Martina)

One Response to Gereja dan Pendidikan

  1. Antonius Haris says:

    Terima kasih artikel nya Bu Enung.
    Pendidikan memang menjadi dasar untuk kehidupan yang lebih beriman sehingga gereja harus bersinergi dengan pendidikan untuk umatnya.
    Yang saya baca di Milis dan bersumber dari hidupkatolik.com
    (http://www.hidupkatolik.com/2013/05/03/tatkala-sekolah-katolik-kekurangan-murid)
    disatu sisi Sekolah Katolik ada yang kekurangan murid, dan disisi lain ada yang berkelimpahan murid.

    Sekolah Katolik khususnya di Jakarta dan sekitarnya termasuk Serpong, juga cukup mahal biayanya dan membuat banyak umat Katolik menjadi tidak bisa sekolah di sekolah Katolik yang di harapkan. Khususnya juga dari golongan keluarga yang tidak mampu, untuk bersekolah di sekolah non Katolik pun harus mendapatkan bantuan.
    Paroki kita St. Monika juga sudah ada Sie Pendidikan yang membantu umat nya untuk bisa bersekolah.

    Dan saat ini memang di KAJ sedang digiatkan Gerakan “Ayo Sekolah, Ayo Kuliah”, yang menurut saya sangat bagus.
    Di Paroki lain, gerakan ini sukses seperti di Paroki Santo Thomas Rasul Bojong Indah Jakarta (http://www.ayosekolah.org/ayosekolah/ayosekolahsathora/)
    dan diikuti di paroki yang lain seperti Paroki Maria Bunda Karmel Tomang (http://www.parokimbk.or.id/warta-minggu/artikel/19-05-2013/ayo-sekolah-ayo-kuliah/).
    Semoga kedepan Gereja St. Ambrosius juga bisa membuat gerakan “Ayo Sekolah, Ayo Kuliah” terhadap semua umatnya.
    Terima kasih.

Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>