Peristiwa Iman Meriah di Ketapang (Tahbisan Uskup Ketapang)

Mgr-Antonio-Guido-Filipazzi-Mgr-Pius-Riana-Prapdi

 

Serombongan orang dari Pontianak kebingungan. Hotel Perdana, di mana mereka biasa menginap di Kota Ketapang, pada Jumat, 7/9, sudah penuh.

Kepada petugas front office hotel, salah satu dari mereka bertanya, “Mengapa semua hotel penuh? Ada apa di Ketapang?” Kepada musafir yang tampak kelelahan setelah melakukan perjalanan sekitar 10 jam itu, petugas front office hanya mengatakan, “Kami tidak tahu. Yang jelas, di sini penuh!”

Ketapang adalah ibukota Kabupaten Ketapang, terletak di bagian paling selatan Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar). Di kota ini terdapat bandar udara Rahadi Osman. Dari bandara ini, terdapat penerbangan menuju ibukota Kalbar Pontianak, Semarang melalui Pangkalan Bun Kalimantan Tengah, dan Jakarta.

Selain jalan darat, untuk mencapai Ketapang juga bisa dengan jalan air, baik melalui laut maupun sungai. Di kota ini terdapat pelabuhan Sukabangun. Dari pelabuhan ini, Pontianak dapat dicapai dengan kapal cepat berkapasitas sekitar 400 penumpang, dalam waktu sekitar tujuh jam. Selain itu, juga terdapat angkutan air lainnya, seperti kapal kelotok dan long-boad berkapasitas 36 penumpang melalui jalur sungai. Kota Ketapang sendiri dikelilingi Sungai Pawan. Terdapat tiga jembatan untuk menuju kota ini dengan jalan darat, yakni jembatan Pawan I, Pawan II, dan Pawan V. Di kota ini, tidak ada kendaraan umum. Ojek pun tidak gampang ditemukan.

Di kota inilah Gereja Katedral St Gemma Galgani berdiri. Di gereja ini, Minggu, 9/9, uskup ketiga Ketapang Mgr Pius Riana Prapdi ditahbiskan. Dua uskup sebelumnya adalah Mgr Blasius Pujaraharja (1979-2012), dan Mgr Gabriel Willem Sillekens CP (1962-1979). Keuskupan Ketapang berada di wilayah Provinsi Gerejani Pontianak, dengan Keuskupan Agung Metropolit Pontianak. Selain Ketapang, dua keuskupan sufragan di wilayah ini adalah Sintang dan Sanggau.

Sejak Takhta Suci mengumumkan pengangkatan Mgr Pius, kota Ketapang menjadi lebih sibuk. Bupati Ketapang Henrikus mengatakan, “Saya pikir jabatan uskup itu tidak mengenal pensiun.” Ketua Panitia Acara Tahbisan, Heronimus Tanam, mengungkapkan, “Awalnya kami bingung, karena belum pernah menghadapi peristiwa macam ini. Selain mempersiapkan acara tahbisan itu sendiri, juga penyambutan tamu dari luar kota, Duta Besar Vatikan dan para uskup.” Belum lagi, sebenarnya muncul isu “penolakan” atas keputusan Takhta Suci karena ketidaktahuan, melalui SMS maupun surat kaleng.

Nyosu Minu

Sejak beberapa hari menjelang Misa Tahbisan, baliho-baliho ucapan selamat kepada Mgr Pius mendominasi pemandangan komplek Katedral, hingga di menara gereja. Umat berduyun-duyun memadati gedung Sillekens, untuk menyaksikan film “Soegija”. Gedung ini adalah gereja katedral lama yang dialihfungsikan menjadi gedung serbaguna.

Sabtu pagi dan sore, 8/9, diadakan rangkaian upacara adat Nyosu Minu. Tiga orang menjalani upacara ini, yakni Mgr Blasius, Mgr Pius, dan Pastor Paroki Katedral Matheus Juli. Empat tokoh “spiritual” Dayak melakukan upacara ini. Dalam adat Dayak, upacara ini diadakan ketika terjadi ancaman yang mengganggu kedamaian komunitas dan individu. Frase “Nyosu Minu” secara harafiah berarti memanggil kembali semangat. Vikaris Jenderal (Vikjen) semasa Mgr Blasius, Pastor Zacharias Lintas Pr -yang kemudian kembali diangkat Mgr Pius untuk satu tahun ke depan- mengungkapkan, “Upacara ini dilangsungkan, lebih pada dimensi sosial, supaya umat menjadi tenang.”

Malam harinya, lebih dari 2500 orang menghadiri Salve Agung yang dipimpin Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo bersama Uskup Banjarmasin Mgr Petrus Boddeng Timang, dan Uskup Agung Samarinda Mgr F. Sului Hajang Hau MSF. Salve Agung adalah tradisi Gereja untuk menghormati kehadiran Kristus dengan pentakhtaan Sakramen Mahakudus. Dalam ibadat ini, juga diadakan pemberkatan tanda-tanda uskup, antara lain cincin, kalung salib, mitra, dan tongkat.

Rangkaian upacara ini berpuncak pada Misa Tahbisan, Minggu, 9/9, yang dimulai tepat pukul 09.00. Sebagai pentahbis utama adalah Uskup Emeritus Ketapang Mgr Blasius, didampingi Uskup Agung Semarang Mgr J. Pujasumarta dan Uskup Agung Pontianak Mgr H. Bumbun OFMCap. Puncak ritus tahbisan adalah penumpangan tangan para uskup dan doa tahbisan. Sebanyak 29 uskup, termasuk Nunsio Apostolik untuk Indonesia Mgr Antonio Guido Filipazi berpartisipasi dalam Momen Agung Gereja Ketapang ini.

Usai pentahbisan, sebelum menduduki takhta uskup, Mgr Pius bersama para pentahbis menghadap ke umat. Mgr Blasius mengangkat tangan Mgr Pius sambil mengatakan, “Saudara-saudari terkasih, Keuskupan Ketapang kini mempunyai seorang uskup baru yang akan memimpin serta mempersatukan umat pada Kristus, memperhatikan keselamatan, serta hidup bersatu sehati sejiwa dalam suka dan duka dengan umat. Sebagai tanda syukur kepada Tuhan, dan bahwa beliau adalah uskup saudara, maka kami menyerahkan tahkta keuskupan kepadanya. Inilah uskup kita Mgr Pius Riana Prapdi.” Umat dan para imam pun menjawab, “Syukur kepada Allah.” Tepuk tangan pun terdengar menggemuruh di Katedral Ketapang.

Benidiktus W./R.B.E. Agung Nugroho

www.hidupkatolik.com

Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>